Darisemua pemahaman sebelumnya, inti dari definisi kearifan
Contohkearifan lokal di Indonesia Masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai macam suku dan budaya sehingga Indonesia memiliki jumlah kearifan lokal yang cukup banyak. Hal tersebut bisa menjadi kekuatan sekaligus tantangan dalam upaya mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
Pelaksanaankearifan lokal ini dimulai dengan melibatkan warga untuk memasak sesaji yang akan dihidangkan seperti ketupat, uwi, gembili, embong, garut, gethuk, cemplon, ayam panggang, ikan kali panggang dan lainnya. 2. Ulap Doyo Ulap Doyo merupakan kearifan lokal yang termuat dalam motif tenun sebagai warisan suku Dayak Benuaq di Kalimantan.
0MJplm. Contoh Kearifan Lokal – Dalam tradisi Jawa, gadis yang hendak menikah diharuskan untuk dipingit, di mana gadis tersebut tidak diperbolehkan untuk keluar rumah. Hal tersebut diterapkan agar calon mempelai wanita terhindar dari segala macam marabahaya dan kejahatan yang dapat menggagalkan acara pernikahan. Di Papua, masyarakat setempat meyakini ajaran Te Aro Neweak Lako atau aku adalah alam. Ajaran tersebut membuat banyak masyarakat setempat menghormati alam dan menjaga kelestariannya dengan baik sebagaimana mereka menjaga diri sendiri. Dua hal tersebut adalah contoh kearifan lokal yang dapat kita temukan di Indonesia. Lantas apa saja contoh kearifan lokal domestik dan internasional? Dalam kesempatan kali ini, kita akan mengulas contoh kearifan lokal yang perlu kita kenali. Pengertian Kearifan LokalContoh Kearifan Lokal1. Selametan2. Awig-Awig3. Ulap Doyo4. Mappalette Bola5. Cingcowong6. Te Aro Naweak Lako7. Lompat Batu Nias8. Membungkukkan Badan9. Bau NyaleKesimpulan Pengertian Kearifan Lokal Kearifan lokal atau local wisdom tidak dapat kita hindari di manapun kita tinggal. Hanya saja, setiap daerah memiliki kearifan lokal yang berbeda. Zaman dahulu, leluhur kita memegang erat dan memberikan penghormatan yang tinggi terhadap kearifan lokal tersebut. Namun di zaman ini, kearifan lokal perlahan mulai banyak dilupakan oleh generasi muda. Berbicara definisi, kita akan menemukan banyak versi pembahasan mengenai objek yang sedang didefinisikan. Tidak kecuali pembahasan kita kali ini, yaitu kearifan lokal. Dalam buku Kearifan Lokal Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan, Robert Sibarani mendefinisikan kearifan lokal sebagai kebijaksanaan atau pengetahuan suatu masyarakat tertentu yang berasal dari nilai-nilai luhur tradisi masyarakat setempat yang telah berlangsung secara turun-menurun. Sedangkan menurut UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup , kearifan didefinisikan sebagai nilai-nilai luhur yang berlaku di sebuah tata hidup masyarakat tertentu dengan tujuan melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari. Secara umum, kearifan lokal dapat diartikan nilai yang diterapkan sebagai budaya lokal, diwujudkan dalam bentuk sikap, pandangan, hukum, yang diajarkan oleh leluhur, sehingga membentuk sistem pengetahuan lokal dan dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pada poin ini, kita akan mengulas kearifan lokal yang dapat kita temui, baik di tanah air maupun di negara lain. Dengan mengetahui kearifan lokal yang diterapkan oleh lingkungan dan masyarakat setempat, maka diharapkan kita dapat memberikan rasa hormat terhadap budaya dan nilai yang dijunjung oleh masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. Baiklah Grameds, kita nggak perlu berlama-lama ya. Langsung saja kita ulas bersama 1. Selametan Dalam tradisi Jawa, terdapat sebuah kearifan lokal yang dinamakan selametan. Acara ini secara tradisional dilaksanakan dengan menggelar doa bersama yang dipanjatkan oleh banyak orang dengan bentuk melingkar. Di tengahnya, terdapat makanan dalam bentuk tumpeng atau bentuk lainnya dilengkapi dengan lauk pauk. Doa tersebut ditujukan agar sang empunya hajat mendapatkan keselamatan. Setelah doa bersama, makanan yang telah disediakan dimakan bersama. Kemudian sisanya dibagikan kepada yang hadir dan tetangga sekitar. Tujuan dilakukannya selametan ini agar orang yang menyelenggarakannya dilimpahi keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Selametan dapat dipahami sebagai ritual untuk menegaskan bahwa kita berada dalam kondisi yang selamat atau dicita-citakan. Selamet dalam bahasa Jawa artinya keadaannya sudah pas. Dengan demikian, sang empu selametan bersyukur atas keadaan saat ini. Pada awalnya, budaya ini diyakini diturunkan sejak zaman kepercayaan animisme dan dinamisme, kemudian disesuaikan dengan ajaran Hindu-Budha di zamannya, dan saat ini doa-doa tersebut sering kali diisi dengan permohonan kepada Allah dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. 2. Awig-Awig Sebagaimana sebuah negara, setiap daerah yang berada di dalam negara juga memiliki aturan kehidupan masyarakat yang dituangkan dalam bentuk undang-undang atau hukum dasar. Daerah tersebut memiliki anggaran dasar rumah tangga yang menjadi pedoman untuk menjalankan peran dan fungsi organisasi desa. Di Desa Pakraman, Bali dan Lombok Barat Nusa Tenggara Barat NTB, berlaku undang-undang daerah yang disebut dengan Awig-awig. Awig-awig berasal dari kata “wig” yang berarti rusak. Sedangkan “awig” berarti tidak rusak atau baik. Dengan demikian, secara bahasa, Awig-awig dapat diartikan sebagai menjadikan sesuatu menjadi baik. Secara istilah, Awig-awig merupakan sebuah ketentuan yang mengatur tata krama dan kehidupan masyarakat agar tercapai tata kehidupan yang ajeg di dalam kehidupan bermasyarakat. Awig-awig di Bali dan Lombok Barat ini lebih menjadi pedoman bagaimana bertindak dan bersikap bagi masyarakat setempat. Terlebih dalam berinteraksi dengan lingkungan setempat dan mengolah sumber daya alam yang ada. Awig-awig memberikan arahan agar masyarakat setempat tidak merusak lingkungan, menjaga kelestariannya, dan ekosistem alamnya tetap seimbang. 3. Ulap Doyo Contoh kearifan lokal berikutnya datang dari Pulau Kalimantan. Penduduk asli Pulau Kalimantan, Suku Dayak, memiliki kearifan lokal berbentuk fisik yang dinamakan dengan Ulap Doyo. Pulau Borneo ini memang dikenal dengan keragaman tekstilnya yang berkualitas. Ulap Doyo merupakan jenis tenun ikat yang dibuat dari bahan baku serat daun doyo curliglia latifolia. Daun ini merupakan tanaman sejenis daun pandan. Hanya saja, daun Doyo memiliki serat yang kuat. Tumbuhan ini secara liar tumbuh di pedalaman Kalimantan, salah satunya di daerah Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat. Kain tenun Ulap Doyo diprediksi telah ada sejak berabad-abad silam. Bahkan bisa juga kearifan lokal satu ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Hindu Kutai. Dugaan tersebut tidak berdasarkan prasangka belaka, namun juga didasarkan pada adanya temuan antropologi yang menyebutkan adanya korelasi antara strata sosial dengan motif pada tenun Ulap Doyo yang dipakai masyarakat di zaman tersebut. Motif yang sering ditemukan pada kain tenun Ulap Doyo merupakan gambar flora dan fauna yang berada di sekitar Sungai Mahakam. Motif lainnya yang biasa muncul bertema peperangan antara naga dan manusia. Sebagaimana penjelasan pada paragraf sebelumnya, motif kain tenun ini dapat merepresentasikan kelas sosial siapa saja yang mengenakannya. Proses pembuatan Ulap Doyo melalui proses yang unik, pasalnya wanita Dayak menguasai teknik pembuatannya sejak usia belasan tahun secara spontan. Ya, mereka menguasainya tanpa proses latihan. Mereka hanya mengamati wanita lain yang sudah berpengalaman ketika menenun Ulap Doyo. 4. Mappalette Bola Jika kalian akan pindah rumah, kalian tentu disibukkan dengan mengemasi barang yang akan dibawa dari rumah lama menuju rumah baru. Bukan begitu, Grameds? Namun hal tersebut tidak berlaku untuk masyarakat Suku Bugis, Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis tidak perlu khawatir jika ingin pindah rumah. Karena masyarakat sekitar akan membantu tetangganya yang pindah rumah dengan cara menggotong rumah secara bersama-sama. Jumlah orang yang mengangkut rumah bisa mencapai puluhan hingga ratusan laki-laki. Mereka melakukan itu semua dengan suka cita karena hal demikian telah menjadi kearifan lokal di sana. Tradisi ini biasa dilakukan jika ada salah seorang dari anggota suku tersebut ingin pindah rumah atau menjual rumahnya namun tidak dengan tanahnya. Bagaimana bisa rumah dipindah dari tanah? Rumah yang dipindahkan bukan rumah pada umumnya, namun rumah adat panggung dari yang menjadi rumah adat masyarakat Sulawesi. Metode pemindahan rumah dilakukan dengan dua cara. Pertama, bagian bawah rumah akan dipasangi roda lalu rumah tersebut didorong ke tempat tujuan. Cara pertama ini digunakan apabila lokasi baru cukup dekat dengan lokasi lama. Kedua, rumah diangkat secara bersama-sama apabila lokasi baru cukup jauh dari lokasi lama. 5. Cingcowong Kearifan lokal berikutnya adalah Cingcowong. Budaya ini merupakan sebuah ritual yang terkadang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Keberadaannya memiliki hubungan yang erat antara kebutuhan manusia dan ketergantungannya terhadap alam, yaitu kebutuhan akan air. Ritual ini dilakukan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menurunkan hujan ketika terjadi musim kemarau panjang. Cingcowong berasal dari kata cing dan cowong. Dalam kamus Bahasa Indonesia-Sunda, terdapat arti yang sama untuk kata “cik” yaitu coba. Sementara kata cowong berarti biasa berbicara keras. Secara Bahasa, Cingcowong dapat diartikan dengan “mencoba berbicara keras”. Versi lainnya, Cingcowong memiliki arti “coba terka siapa orang ini”. Ritual Cingcowong dilakukan dengan menggunakan boneka sebagai medianya. Boneka ini bagian kepalanya terbuat dari batok kelapa dan badannya dari bubu ikan. Boneka ini berfungsi untuk menghubungkan antara manusia dengan alam ghaib. Ritual ini dipimpin oleh seseorang yang dipanggil Punduh. Seorang punduh adalah orang yang dianggap memiliki keahlian khusus dalam bidang spiritual atau kepercayaan setempat. Kemampuan tersebut ia peroleh karena inisiatif sendiri sehingga dipercaya memiliki keahlian untuk menghubungkan manusia dengan makhluk atau kekuatan supranatural. Demi kelancaran ritual, punduh dibantu oleh seorang lainnya yang bertugas memegang boneka Cingcowong. Pada saat ritual diperlukan alat music yang disebut buyung dan bokor. Tidak lupa ada beberapa sinden yang menyenandungkan lagu-lagu untuk mengiringi Cingcowong menari. 6. Te Aro Naweak Lako Kearifan lokal yang berasal dari tanah Papua ini merupakan tradisi yang diajarkan oleh leluhur mereka untuk mencintai alam. Suku Amungme yang hidup di daerah Tembagapura, menganggap tanah sebagai ibu yang memberi makan, mendidik, memelihara, serta membesarkan bayi hingga lanjut usia sampai tiada. Bumi diciptakan dengan beragam kelengkapan yang ada di dalamnya. Para leluhur Papua mengajarkan generasi penerusnya untuk mengolah sumber daya alam Papua dengan bijaksana. Mereka mengajarkan agar manusia mencintai alam sebagaimana mereka mencintai diri sendiri. Mereka menganggap diri mereka adalah bagian dari alam. 7. Lompat Batu Nias Grameds, pernah melihat uang kertas seribu rupiah yang diterbitkan pada tahun 1992? Pada salah satu sisi uang tersebut, kalian akan menemukan gambar seorang pemuda laki-laki melompati Batu Nias. Gambar tersebut diambil dari kearifan lokal yang berlaku di Pulau Nias, Sumatera Utara. Tradisi yang menjadi kearifan lokal ini disebut Fahombo. Budaya ini telah berlangsung lama dan diperuntuk untuk laki-laki saja. Agar dianggap sebagai laki-laki yang matang dan dewasa secara fisik, pemuda Nias harus melompati tumpukan batu setinggi dua meter dan selebar 40 cm. Jika ditarik ke belakang, tradisi ini dulunya merupakan syarat yang harus dipenuhi seorang laki-laki jika ingin ikut berperang melawan musuh. Dulu, dikisahkan di pulau tersebut seringkali terjadi perang antar wilayah. Setiap wilayah dipagari dengan bambu setinggi dua meter atau lebih sebagai pembatas wilayah. Pemuda yang dapat melompati pagar bambu tersebut diperbolehkan untuk ikut berperang. 8. Membungkukkan Badan Kearifan lokal membungkukkan badan dapat kita temui di beberapa negara. Salah satunya di negara kita, Indonesia. Kemudian ada Jepang dan Korea Selatan yang membudayakannya. Namun demikian, cara dan arti sikap tersebut memiliki arti yang berbeda antara masing-masing negara. Di Indonesia, contohnya. Kearifan lokal ini cukup familiar dalam budaya Jawa seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kearifan lokal di wilayah-wilayah tersebut disebut dengan mlaku mbungkuk, maksudnya berjalan dengan gestur tubuh sedikit membungkuk ketika berjalan lewat di depan orang yang lebih tua. Sikap dan perilaku tersebut sudah ada sejak zaman dulu. Maksud dari mlaku mbungkuk adalah mengajarkan anak-anak tentang tata krama dan sopan santun kepada orang yang lebih tua sehingga mereka memiliki rasa hormat. Posisi badan saat melakukan mlaku mbungkuk adalah badan membungkuk ke bawah dengan posisi satu tangan lurus ke bawah dan satu tangn lainnya ke belakang seakan memegang pinggang naun bukan berkacak pinggang. Pada umumnya, mlaku mbungkuk disertai dengan kalimat “nuwun sewu, amit” yang berarti mohon ijin untuk lewat. Sementara itu, salah satu kearifan lokal Jepang juga membungkukkan badan. Gestur ini disebut dengan Ojigi. Budaya ini dilakukan orang Jepang dengan cara membungkukkan badan mereka saat bertemu dengan orang lain. Badan yang dibungkukkan biasanya berada pada rentang 15-45 derajat kemiringan. Cara ini berbeda dengan orang Indonesia yang memilih bersalaman atau berjabat tangan ketika bertemu dengan orang lain. Bagi orang Jepang, kontak anggota tubuh dengan orang lain, terutama dengan orang yang belum dikenal, akan dianggap tidak sopan. Gerakan Ojigi dilakukan dengan banyak tujuan. Di antaranya adalah untuk mengucapkan salam kenal, sambutan selamat datang, permintaan maaf, ungkapan rasa hormat, suasana formal, ucapan terima kasih, atau ekspresi perasaan. 9. Bau Nyale Kearifan lokal berikutnya yang akan kita bahas adalah Bau Nyale yang menjadi budaya Suku Sasak, suku terbesar di Lombok, Nusa Tenggara Barat NTB. Arti dari Bau Nyale sendiri adalah menangkap cacing laut. Memang, cacing laut bagi suku Sasak dianggap sebagai jelmaan Putri Mandalika. Cacing laut atau nyale yang ditangkap tersebut kemudian dimasak dengan berbagai pilihan menu yang ada di Lombok. Kearifan lokal ini dilangsungkan pada tanggal 20 setiap bulan 10 menurut perhitungan kalender suku Sasak pranata mangsa. Biasanya hari tersebut jatuh pada rentang bulan Februari sampai Maret setiap tahunnya. Pada tanggal tersebut, kalian tidak perlu heran jika ada ribuan orang berduyun-duyun datang ke Pantai Kuta di Lombok pada dini hari untuk menangkap nyale. Kesimpulan Grameds, sebenarnya masih ada banyak kearifan lokal yang belum sempat kita bahas, baik di dalam Indonesia ataupun di negara lain. Budaya, tradisi, norma, dan kepercayaan yang berlaku di setiap daerah menjadikan dunia kita memiliki keragaman kearifan lokal yang melimpah. Dengan demikian, bisa jadi kearifan lokal yang berlaku di daerah kita berbeda dengan kearifan lokal yang berlaku di tempat lain. Keberagaman tersebut sudah seharusnya menjadikan kita lebih bijak dalam menghadapi perbedaan. Kita sah-sah saja bangga terhadap kearifan lokal yang kita pegang selama ini. Namun, kita akan bijaksana jika tetap memberikan rasa hormat terhadap kearifan lokal yang berlaku di tempat lain. Grameds, ulasan kita mengenai contoh kearifan lokal telah usai. Semoga semua pembahasan di atas bermanfaat sekaligus menambah wawasan Grameds. Jika ingin mencari berbagai macam buku tentang budaya Indonesia, kamu bisa mendapatkannya di Sebagai SahabatTanpaBatas, Gramedia siap menemanimu untuk menggali kearifan lokal lainnya dengan buku-buku terbaik kami dan jadikan hidup kamu LebihDenganMembaca. Jangan segan untuk memilih buku yang terbaik ya, Grameds. Penulis Mutiani Eka Astutik BACA JUGA Pengertian Etika Macam-Macam Etika & Manfaat Etika Bagaimana Cara Menghargai Orang Lain dengan Cara yang Tepat 16 Tips Agar Lebih Dihormati Oleh Orang Lain Pengertian, Etika, dan Musyawarah sebagai Kearifan Lokal Buku Budaya Nusantara Best Seller Terbaru ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah." Custom log Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda Tersedia dalam platform Android dan IOS Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis Laporan statistik lengkap Aplikasi aman, praktis, dan efisien
- Kearifan lokal adalah identitas atau kepribadian budaya sebuah bangsa yang membentuk jati diri suatu bangsa. Kearifan lokal tidak hanya berasal dari daerah di Indonesia. Namun, juga berbagai bidang, contohnya dalam sistem konservasi tanah dan air. Dilansir dari pemakalah utama 4 berjudul Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air, secara etimologi kearifan lokal terdiri dari dua kata. Dua kata tersebut adalah kearifan wisdom dan lokal local. Berdasarkan pemahaman dari KBBI lokal berarti setempat. Sementara kearifan, berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, kearifan lokal berarti gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, dan berniat baik. Gagasan-gagasan tersebut tertanam, dan dipatuhi oleh anggota masyarakat. Para ahli mengemukakan beberapa pengertian terkait pengertian lokal. Beberapa pengertian tersebut, pertama dikemukakan oleh seorang penulis dari London yang bernama HG. Quaritch Wales. Menurut Wales, kearifan lokal disebut juga sebagai local genius. Local genius berarti, sejumlah ciri kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat sebagai sebuah akibat dari pengalamannya di masa lalu. Sementara menurut penulis Yunus Abidin, kearifan lokal dipahami sebagai budaya yang dimiliki oleh masyarakat tertentu. Budaya tersebut ditempatkan pada suatu lokasi tertentu. Tidak hanya itu, budaya juga dianggap mampu bertahan dalam menghadapi arus globalisasi. Lantaran, kearifan lolak tersebut mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter bangsa. Bedasarkan dasar hukumnya pada UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, kearifan lokal merupakan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tatanan kehidupan masyarakat. Tujuannya yaitu, untuk melindungi, dan mengelola lingkungan hidup dengan lestari. Dari semua pemahaman sebelumnya, inti dari definisi kearifan lokal yaitu kumpulan pengetahuan berupa nilai, norma, dan aturan-aturan khusus yang berkembang. Aturan-aturan tersebut mesti ditaati dan diwariskan dari generasi ke generasi. Contoh Kearifan Lokal Tanah dan Air dalam Bidang Budaya Kearifan lokal yang berkaitan dengan konservasi air dan tanah dapat berupa nilai-nilai yang diwujudkan dalam praktik ritual, maupun upacara adat. Konservasi tersebut juga dapat diwujudkan dalam bentuk anjuran maupun larangan untuk tidak menggunakan sumberdaya air dan tanah secara berlebihan. Selain itu, konsevasi juga dapat diwujudkan berupa sanksi bagi orang-orang yang melanggar aturan di dalamnya. Berikut ini beberapa contoh praktik budaya dan kearifan lokal di Indonesia 1. Di Jawaa. Pranoto Mongso Berdasarkan bahan bacaan Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 2009 berjudul Kajian Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan milik Suhartini Pranoto mongso merupakan aturan waktu musim yang digunakan oleh para tani di pedasaan. Aturan tersebut didasarkan pada naluri dari leluhur, dan dipakai sebagai dasar untuk mengolah pertanian. Maka itu, pranoto mongso memberi arahan kepada petani untuk bercocok tanam dengan cara mengikuti tanda-tanda alam dalam mongso yang bersangkutan. Sehingga, pemanfaatan tanah oleh petani sifatnya terukur. Meskipun, air dan saluran irigasi sudah tersedia dengan baik. Praktik ini dipercaya dapat menjaga keseimbangan alam. b. Nyabuk GunungNyabuk gunung merupakan praktik bercocok tanam dengan cara membuat teras sawah yang dibentuk menurut garis kontur. Praktik ini umumnya berlangsung di lereng Bukit Sumbing dan Sindoro. Nyabuk gunung adalah suatu wujud konservasi lahan dalam bercocok tanam. Hal itu karena didasarkan pada garis konturnya. Berbeda dengan praktik nyabuk gunung di Dieng yang memotong kontur pada saat bercocok tanam. Memotong kontur dapat mempermudah terjadinya longsor. c. Menganggap Suatu Tempat Keramat Khususnya Pada Pohon Besar Beringin Anggapan tentang tempat keramat cenderung membuat banyak orang tidak merusak tempat tersebut. Sebaliknya, mereka akan memelihara tempat itu. Bahkan, tidak berani untuk membuang sampah sembarangan. Mereka takut jika nanti karma buruk akan diterima di kemudian hari. Misalnya, pada pohon beringin besar. Praktik ini merupakan bentuk konservasi karena dengan memelihara pohon, maka seseorang akan menjaga sumber air. Hal ini disebabkan karena, pohon beringin memiliki akar yang sangat kuat. Dekat lokasi akar pohon yang kuat, biasanya ada sumber air. 2. Di Sulawesi Di Sulawesi terdapat komunitas adat Karampuang. Komunitas adat itu berperan dalam pengelolaan hutan. Mereka meyakini bahwa hutan merupakan bagian dari alam dirinya. Sehingga, untuk menjaga keseimbangan ekosistem, di dalamnya terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh semua masyarakat. Aturan itu akan dibacakan oleh seorang galla atau pelaksana harian pemerintah adat tradisional sebagai suatu bentuk fatwa adat. Pembacaannya akan dilakukan di hadapan dewan adat dan warga sebagai suatu bentuk peraturan bersama. 3. Di Baduy DalamMasyarakat Baduy meyakini bahwa mereka adalah orang yang pertama yang diciptakan sebagai pengisi dunia dan bertempat tinggal di pusat bumi. Segala gerak laku masyarakat Baduy harus berpedoman kepada buyut yang telah ditentukan dalam bentuk pikukuh karuhun. Tidak ada seorang pun yang berhak dan berkuasa untuk melanggar dan mengubah tatanan kehidupan yang telah ada dan sudah berlaku secara turun menurun. Pikukuh itu harus ditaati oleh masyarakat Baduy dan masyarakat luar yang sedang berkunjung ke Baduy. Peraturan tersebut yaitu Dilarang masuk hutan larangan leuweung kolot untuk menebang pohon, membuka ladang atau mengambil hasil hutan lainnya. Dilarang menebang sembarangan jenis tanaman, misalnya pohon buah-buahan, dan jenis-jenis tertentu. Dilarang menggunakan teknologi kimia, misalnya menggunakan pupuk, obat pemberantas hama penyakit, atau meracuni ikan. Berladang harus sesuai dengan ketentuan adat, dan sebagainya. Contoh Kearifan Lokal Tanah dan Air dalam Bidang Agama Solusi dari permasalahan lingkungan tidak hanya dengan teknologi dan metode ilmiah saja. Solusinya juga bisa dengan kepercayaan yang diajarkan dalam agama. Berikut ini konservasi menurut berbagai ajaran agama di Indonesia 1. Konservasi menurut ajaran Islam Dalam islam terdapat empat konsep yang dipahami sebagai cara untuk membangun pemahaman agama terhadap ekologi atau lingkungan. 1 taskhir penundukan, 2 abd kehambaan, 3 khalifah pemimpin, dan amanah dipercaya. Empat konsep tersebut berdasar dari konsep tujuan penciptaan alam semesta dan manusia. Secara seimbang, pandangan yang komprehensif akan memberikan pengetahuan yang baik pada relasi manusia dan lingkungan dalam kaitannya dengan keseimbangan alam. 2. Konservasi menurut ajaran Kristen dan Katolik Pada tahun 1967, sejarawan Lynn White Jr. mempublikasikan sebuah paper berjudul The Historic Roots of Our Ecological Crisis. Di dalamnya dia membahas tentang masyarakat kristiani yang sangat berhati-hati dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Hal itu didasarkan pada Injil yang menyatakan bahwa Tuhan telah mengutus Adam dan Ave untuk menguasai alam “Berhasil melipatgandakan, menundukkan, dan mengisi bumi, serta menguasai ikan-ikan di laut, unggas-unggas di udara, dan semua yang ada di bumi” Terjemahan bebas dari Genesis 128. Sehingga, ajaran Kristen memandang bahwa kerusakan lingkungan hidup sebagai bagian dan wujud dari perilaku manusia yang tidak sejalan dengan tujuan Tuhan menciptakan alam semesta. 3. Konservasi menurut ajaran HinduAjaran-ajaran agama Hindu yang dituangkan ke dalam upacara atau yadnya berlandaskan pada filsafat Tri Hita Kirana THK. THK terdiri dari tiga aspek yang dijalankan dalam kehidupan harmonis berkelanjutan. Pertama, Palemahan, yang mengatur keharmonisan manusia dengan lingkungannya, termasuk lingkungan hayati. Kedua, Parahyangan yang berarti mengatur hubungan manusia dengan Tuhan religius. Ketiga, Pawongan yang berarti mengatur hubungan antara manusia dengan masyarakat aspek sosial kemasyarakatan. Secara filosofis, ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Tidak hanya itu, tiga aspek tersebut juga telah menjadi tradisi komunal yang dimanifestasikan dalam berbagai kegiatan religius. 4. Konservasi menurut ajaran BudhaAgama Budha memandang terdapat hubungan antara kemoralan seseorang dengan kelestarian alam. Hal itu disebabkan karena peristiwa yang terjadi di alam ini saling berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh tersebut ada pada terdapat pada komponen-komponen lainnya. Komponen itu tersusun dalam hukum paticcasamuppada. Hal ini berarti bahwa perilaku yang dilakukan oleh manusia sangat berpengaruh terhadap lingkungan hidup, dan lingkungan juga memberikan pengaruh terhadap manusia. Jika manusia merusak lingkungan, maka lingkungan akan memberikan dampak buruk bagi manusia. 5. Konservasi menurut aliran kepercayaan LainSalah satu aliran kepercayaan yang sampai saat ini berkembang di Indonesia adalah Komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu. Komunitas ini lebih sering dikenal dengan Dayak Indramayu. Aliran kepercayaan ini mempunyai pandangan teologis tersendiri yang berbeda dengan agama lain. Mereka meyakini bahwa alam adalah sumber kehidupan, alam menjadi tempat tumbuh, dan matinya semua makhluk hidup termasuk manusia. Alam juga merupakan pencipta kehidupan. Mereka meyakini bahwa manusia lahir dari saripati alam. Sama halnya dengan seorang bayi yang lahir dari pertemuan sel ovum dan sperma kedua orang tuanya. Sel tersebut tercipta dari saripati makanan, dan makanan manusia diperoleh dari alam. Sehingga alam menjadi pusat proses juga Pengertian Kearifan Lokal Fungsi, Karakteristik, dan Ciri-Cirinya Strategi Pemberdayaan Komunitas dan Contoh Berbasis Kearifan Lokal - Pendidikan Kontributor Ega KrisnawatiPenulis Ega KrisnawatiEditor Dhita Koesno
Jakarta - Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Pengetahuan ini untuk menjawab berbagai masalah dalam memenuhi kebutuhan modul "Sosiologi SMA Kelompok Kompetensi I" yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sistem pemenuhan kebutuhan meliputi seluruh unsur kehidupan, yaitu agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, organisasi sosial, bahasa dan komunikasi, serta lokal dipandang sangat bernilai dan mempunyai manfaat tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Kearifan lokal menjadi bagian dari cara hidup untuk memecahkan segala permasalahan kearifan lokal atau kearifan tradisional atau sistem pengetahuan lokal indigenous knowledge system adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama sebagai hasil dari proses hubungan timbal balik antara manusia dengan lokal itu tidak hanya berlaku secara lokal pada budaya atau etnik tertentu, tetapi dapat dikatakan bersifat lintas budaya atau lintas etnik sehingga membentuk nilai budaya yang bersifat hampir di setiap budaya lokal di Nusantara dikenal kearifan lokal yang mengajarkan gotong royong, toleransi, etos kerja, dan umumnya etika dan nilai moral yang terkandung dalam kearifan lokal diajarkan turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi melalui sastra lisan antara lain dalam bentuk pepatah, semboyan, dan peribahasa dan kearifan lokal tercermin pada nilai-nilai yang berlaku pada sekelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai tersebut akan menyatu dengan kelompok masyarakat dan dapat diamati melalui sikap dan tingkah laku mereka dalam kehidupan lokal dapat dipandang sebagai identitas bangsa, terlebih dalam konteks Indonesia yang memungkinkan kearifan lokal bertransformasi secara lintas budaya yang pada akhirnya melahirkan nilai budaya Indonesia, kearifan lokal adalah filosofi dan pandangan hidup yang mewujud dalam berbagai bidang kehidupan, meliputi tata nilai sosial dan ekonomi, arsitektur, kesehatan, tata lingkungan, dan kearifan lokal yang bertumpu pada keselarasan alam telah menghasilkan pendopo dalam arsitektur Jawa. Pendopo dengan konsep ruang terbuka menjamin ventilasi dan sirkulasi udara yang lancar tanpa perlu penyejuk Kearifan Lokal NusantaraAda beberapa kekayaan budaya, kearifan lokal nusantara yang terkait dengan pemanfaatan alam, diantaranya Masyarakat Papua, terdapat kepercayaan te aro neweak lako alam adalah aku. Tanah dianggap sebagai bagian hidup manusia. Pemanfaatan sumber daya alam harus Serawai, Bengkulu, terdapat keyakinan celako kumali. Kelestarian lingkungan terwujud dari kuatnya keyakinan tata nilai dalam berladang dan tradisi Dayak Kenyah, Kalimantan Timur. Terdapat tradisi tana' ulen. Kawasan hutan dikuasai dan menjadi milik masyarakat adatMasyarakat Bali dan Lombok. Mempunyai kearifan lingkungan awig-awig. Awig-awig adalah patokan tingkah laku yang dibuat masyarakat berdasarkan rasa keadilan dan kepatutan masyarakat Baduy mempunyai kearifan lingkungan yang mendasari mitigasi bencana dalam bentuk pikukuh ketentuan adat pokok yang mengajarkan antara lain gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak gunung tidak boleh dihancurkan, sumber air tidak boleh dirusakNah, itulah penjelasan mengenai kearifan lokal beserta contohnya. Semoga kearifan lokal di daerahmu tetap terjaga ya, detikers. Simak Video "'Kencan Nonton Wayang', Potret Perjalanan Seni Rupa di Yogyakarta" [GambasVideo 20detik] pal/pal